RUANGBANTEN.COM, Jakarta – Nama Dyastasita Widya Budi, atau yang akrab disapa Dyastasita WB, mendadak menjadi perbincangan hangat di tanah air. Sosoknya mendadak viral di media sosial setelah perannya sebagai juri dalam Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar tingkat Kalimantan Barat pada Mei 2026 memicu gelombang kritik terkait objektivitas penilaian.
Namun, siapakah sebenarnya Dyastasita Widya Budi di balik meja dewan juri yang digelar di Kalimantan Barat.
Karier Mentereng di Lingkungan Parlemen
Dyastasita bukanlah sosok baru di birokrasi pemerintahan. Berdasarkan data resmi dari Setjen MPR RI, beliau merupakan pejabat karier senior yang saat ini mengemban amanah sebagai Kepala Biro Pengkajian Konstitusi.
Jabatan ini berada di bawah Deputi Bidang Pengkajian dan Pemasyarakatan Konstitusi, sebuah posisi strategis yang bertanggung jawab langsung atas pendalaman materi dasar negara dan konstitusi.
Dengan pangkat Pembina Utama (IV/e), Dyastasita tergolong dalam jajaran elit birokrat di lingkungan Sekretariat Jenderal MPR RI.
Secara akademis, Dyastasita menyandang gelar Sarjana Sosial (S.Sos). Sepanjang kariernya, ia sering terlibat dalam berbagai program sosialisasi nilai-nilai kebangsaan, termasuk menjadi bagian dari tim yang merumuskan dan menguji pemahaman generasi muda tentang Empat Pilar MPR RI di berbagai provinsi.
Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) periode 2025, Dyastasita tercatat memiliki total kekayaan bersih sebesar Rp581.220.940 setelah dikurangi kewajiban utang.
Selain karier birokrasinya, nama Dyastasita juga sempat muncul dalam catatan pemberitaan hukum. Pada Juni 2025, ia pernah dipanggil oleh KPK sebagai saksi dalam kapasitasnya sebagai mantan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) di Biro Persidangan dan Sosialisasi untuk mendalami kasus dugaan gratifikasi senilai Rp17 miliar di lingkungan MPR RI tahun anggaran 2020.
Kini, integritas Dyastasita sebagai penguji konstitusi sedang diuji oleh opini publik. Hal ini bermula dari keputusannya memberikan nilai minus lima (-5) kepada siswa SMAN 1 Pontianak, namun memberi nilai sepuluh (+10) kepada sekolah lain untuk jawaban yang substansinya dinilai identik.
Hingga saat ini, publik masih menunggu langkah evaluasi internal yang dijanjikan oleh pimpinan MPR RI terkait posisi dan peran Dyastasita ke depan.






